Bagaimana Agar Klien Nyaman Ketika Pemotretan?


Prewedding di Bandung
Prewedding Andy & Vika | Lokasi : Curug Tilu-Ciwidey Bandung

Ada satu hal yang WM pelajari saat memotret orang, ada respon yang berbeda antara foto candid dan pose. Memotret secara candid dengan ekspresi yang alami tentu berbeda dengan subjek yang kita atur posenya. Terkadang yang sangat sulit adalah memunculkan ekspresi alami ketika memotret dengan pose. Untuk itulah kenapa dalam pemotretan pose tidak pernah dilakukan dengan sekali “jepret” dalam satu pose.

Faktor ekspresi yang kurang alami tentu saja salah satunya dipengaruhi karena klien yang kita potret kurang nyaman, mungkin karena pose yang kita arahkan seolah “memaksa”, atau mungkin karena klien tidak terbiasa menghadapi kamera sehingga dia menjadi gugup.

Lalu bagaimana cara agar klien nyaman saat melakukan sesi pemotretan, sehingga hasil yang kita dapatkan terlihat lebih natural?. Mungkin beberapa hal di bawah ini dapat membantu.

Pertama,  jadikan kamera sebagai teman mereka. Ingat, masih banyak orang yang jarang di potret dalam hidup mereka sehingga begitu melihat kamera mengarah kepadanya muka mereka menjad merah karena malu, atau bahkan tidak jarang ada yang memalingkan muka dari kamera. Apalagi jika fotografer memotret mereka berulang-ulang. Cara yang baik adalah beritahu mereka bahwa akan ada beberapa kali shoot dalam satu pose untuk nantinya diambil pose yang paling baik. Jika sudah beberapa kali biasanya klien akan merasa lebih nyaman dari sebelumnya.

Kedua, sederhana tapi paling penting, Bicaralah Dengan Mereka. Saat sesi pemotretan WM sering memulai percakapan dengan mereka tentang sesuatu yang mereka sukai seperti pernikahan meraka, kapan dan bagaimana mereka bertemu, hobi, karir, dll. Sementara saat kita ngobrol kita bisa mengambil beberapa shoot. Dengan cara seperti ini akan mendekatkan Sobat dengan Klien dan membantu mereka untuk menyadari bahwa kamera tidak hanya alat tapi perpanjangan tangan dari seseorang

 Ketiga, Jika Sobat memotret Klien hanya di satu tempat, bukan tidak mungkin mereka akan merasa bosan. Jadi Kenalkan Dengan Lingkungan Sekitar, biarkan mereka tahu apa yang Sobat pikirkan. Tapi, jangan berpikir untuk diri sendiri misal “Aku akan membawamu ke…!” atau “Ayo kita pergi ke…..!.” sebaliknya katakanlah, “Lihatlah tempat itu. Lihatlah cahaya mataharinya menyinari rumput, sepertinya tempat itu sangat cocok untuk kita melakukan pemotretan!.” Kenalkan mereka dengan lingkungan sekitar dan biarkan mereka yang menentukan kita yang memberikan jalan.

Prewedding Jaswin & Irma @weddingkumagazine

Dan terakhir Jangan Pernah Berhenti Memotret. Sebagian besar hasil jepretan WM berakhir dengan tidak berguna, bukan karena kurangnya keterampilan tetapi karena WM tidak bisa berhenti menekan tombol shutter sekalipun saat istirahat. Jika Sobat hanya memotret setelah mereka tepat dimana mereka akan dipotret, mereka akan merasa demam panggung lagi saat pemotretan. Jadi alangkah baiknya, diluar sesi pemotretan pose pun, Sobat harus aktif menggunakan kamera Sobat untuk memotret kegiatan mereka, sehingga jika mereka merasa diperhatikan oleh fotografer maka dalam sesi pemotretan selanjutnya mereka sudah merasa dekat dengan Sobat. Hanya saja melakukan ini, Sobat memerlukan memory tambahan karena memory Sobat akan cepat habis.

Semoga tips-tips diatas dapat membantu Sobat untuk menjembatani antara kamera dan klien. Salam jepret!

 

Iklan

Terima kasih atas kunjungannya, silahkan berkomentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s