Tips Dan Teknik Fotografi Lilin

Zaman dulu sebelum lahirnya lampu baterai, kalau lagi mati lampu cahaya yang paling setia menemani kita adalah lilin. Ada keasikan tersendiri kalau sudah main-main dengan lilin, mulai dari menyentuh lilin yang panas (udah tahu panas tapi terus aja disentuh), tetap belajar walau cahaya lilin yang remang-remang atau main-main dengan bayangan di dinding. Kalau Sobat mengalami hal itu, berarti Sobat seumuran dengan saya hehe…

Namun bukan itu yang mau saya bahas hari ini…. Tapi mengenai fotografi lilin, maksudnya adalah memotret dengan subjek lilin atau memotret dalam cahaya lilin yang remang.

Jangan salah Sob, lilin adalah sumber cahaya yang unik dan dapat menghasilkan foto yang menakjubkan, namun memotret pada cahaya lilin tidak semudah yang kita bayangkan, bahkan memang harus banyak melakukan trial dan error.

Untuk itulah saya googling dan mencari referensi bagaimana tips dan teknik fotografi lilin sehingga lahirlah artikel ini.

Ini dia beberapa ide dasar untuk bereksperimen pada fotografi lilin:

LILIN

“Candle” oleh Leland Francisco                                      

  1. Lilin bisa menjadi sumber cahaya yang menyala pada obyek dalam foto tetapi tidak muncul dalam foto itu sendiri.
  2. Lilin dapat digunakan sebagai sumber cahaya dan juga berpartisipasi sebagai objek dalam foto akhir.
  3. Lilin dapat berpartisipasi sebagai subyek utama pada foto.
  • Matikan Cahaya lain. Karena subyek kita lilin, maka ingatlah agar tidak ada cahaya lain selain cahaya yang berasal dari lilin. Tujuan dari fotografi lilin adalah untuk mendapatkan efek yang didasarkan pada karakteristik unik yang dipunyai si lilin. Untuk memaksimalkan efek cahaya lilin ini Sobat harus memastikan tidak ada sumber cahaya lain yang mencemari TKP (kayak residivis aja😀 ). Cahaya lilin jauh lebih lemah daripada lampu flash pada kamera Sobat. Untuk itu, fotografi lilin akan selalu berada pada cahaya yang minim, dan cahaya yang minim membutuhkan shutter speed yang rendah. Walaupun Sobat bisa memaksimalkan lebar aperture untuk mendapatkan shutter speed normal, tapi akhirnya saya yakin Sobat akan menggunakan shutter speed rendah juga.

LILIN2

“Red” oleh Alberto

  • Kamera bergoyang. Karena shutter speed rendah maka jika memotret menggunakan tangan sebagai tumpuan, sudah pasti bergetar sedikit saja maka hasil foto akan buram/blur. Untuk itu, gunakanlah tripod atau tempatkan kamera pada permukaan yang stabil, dan pada saat pengambilan gambar gunakan timer pada kamera
  • Subyek Bergerak. Sama seperti yang diatas, namun kali ini yang bergerak adalah subyek/lilinnya, sehingga hasil foto buram/blur. Usahakan cahaya lilin agar tidak banyak bergerak dan obat juga harus hati-hati jangan ada gerakan tiba-tiba.
  • Flickering. Kalau dalam bahasa Indonesia itu namanya kerlap-kerlip, meskipun sulit untuk sepenuhnya menghilangkan ini dan beberapa flicker sebenarnya bagus untuk mendapatkan efek pada fotografi lilin, tapi bagaimana kalau Sobat tidak mau hasil jepretan Sobat tidak terlalu banyak kerlap-kerlip? Hal ini dapat dilakukan dengan memastikan bahwa tidak ada angin yang bertiup pada saat pemotretan, lilin berada pada tempat yang stabil, dan pembakaran pada sumbu sudah stabil.
  • Menentukan shutter speed. Menentukan shutter speed yang tepat juga lumayan sulit. Karena cahaya lilin yang terang di sisi satu dan terkonsentrasi di daerah yang kecil namun area yang jauh dari lilin memiliki cahaya yang lemah. Kebanyakan pengukuran cahaya ambien pada kamera dan pengaturan shutter speed otomatis akan salah. Disini Sobat harus banyak melakukan trial-error, cobalah untuk mengambil beberapa kali shoot dengan shutter speed yang berbeda-beda sampai Sobat mendapatkan settingan yang tepat.
  • Jumlah Cahaya Tergantung Jumlah Lilin. Karena lilin bukanlah sumber cahaya yang kuat, Sobat bisa menggunakan beberapa lilin. Terkadang mungkin Sobat hanya akan memotret satu lilin, namun Sobat mungkin masih memerlukan cahaya lilin tambahan di luar scene. Jika Sobat memerlukan cahaya lilin tambahan, pastikan bahwa lilin tambahan ini ditempatkan dengan cara yang lazim. Contohnya; pastikan lilin tambahan ini tidak menciptakan bayangan pada subyek lilin yang Sobat potret.
  • Pencahayaan Adalah Seni. Menggunakan lilin sebagai sumber cahaya adalah seni dengan sendirinya dan membutuhkan pengalaman. Ada beberapa aturan dasar untuk penentuan posisi lilin. Misalnya jelas bahwa lilin harus lebih dekat ke kamera daripada benda. Jika tidak, hasilnya akan menjadi siluet. Sudut pencahayaan yang berbeda membuat nuansa yang berbeda dan efek yang berbeda. Misalnya, jika Sobat memotret seseorang dan lilin ditempatkan di posisi yang rendah relatif terhadap wajah seseorang, Sobat akan mendapatkan efek yang lebih menakutkan. Di sisi lain, jika lilin ditempatkan pada ketinggian yang sama dengan wajah seseorang , Sobat akan mendapatkan efek yang lebih hangat dan lembut. Tidak ada aturan dalam memposisikan lilin ini tergantung pada efek yang Sobat cari. Lebih dari satu lilin dapat digunakan pada posisi yang berbeda untuk menciptakan efek yang lebih rumit atau untuk menghilangkan warna yang tidak diinginkan. Dan yang pasti, Sobat harus banyak melakukan percobaan, karena semakin banyak melakukan percobaan maka Sobat akan semakin mahir.
LILIN3

“Keeper of the Light” oleh Roy Chan

  • White Balance. Kamera digital dapat diatur untuk mengkompensasi sumber cahaya tertentu yang digunakan. Meskipun kebanyakan kamera dapat secara otomatis mendeteksi dan mengatur white balance, namun akan lebih baik untuk mengatur white balance secara manual. Pada beberapa kamera ada pilihan white balance untuk sumber cahaya lilin. Sobat bisa mencoba white balance yang lain untuk mendapatkan efek yang berbeda.

Jadi kesimpulan dari artikel mengenai Tips dan Teknik Fotografi Lilin adalah memotret cahaya lilin itu tidak mudah, dan lumayan rumit. Untuk itu butuh pengalaman dan pemahaman tentang pencahayaan, shutter speed, dan ilmu fotografi lainnya.

Perlu Diketahui! Artikel ini  WM ambil dan rangkum dari Ziv Haparnas, beliau adalah veteran teknologi dan banyak menulis tentang teknologi dan ilmu pengetahuan isu-isu praktis. (http://www.printrates.com )

Terima kasih atas kunjungannya, silahkan berkomentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s