PREWEDDING DI PANGALENGAN – Mencari Spot Yang Tak Terjamah Fotografer

Tanks to Tri & Della

Bertepatan dengan hari Imlek kemarin kita mengadakan sesi pemotretan Prewedding Outdoor di Pangalengan – Bandung, sekalian mencari spot-spot baru dan jarang dikunjungi fotografer lainnya. pasangan Calon pengantin kali ini yang kami potret bernama Tri & Dela, belia-belia yang masih muda ini akan melangsungkan upacara pernikahannya tanggal 4 Maret mendatang.

Prewedding kali ini banyak suka-dukanya, banyak hal-hal yang lucu dan konyol, apalagi cuaca yang tidak mendukung (mendung, turun kabut dan hujan gerimis) tidak mematahkan semangat kami untuk memotret ria😀.

Satu hari sebelum sesi pemotretan kita sudah menyiapkan segala peralatan dan accesories, juga janjian dengan Tri & Dela agar besok pergi ke lokasi Prewedding lebih pagi (sekitar jam 6.00 WIB) karena kami yakin siangnya sudah pasti turun hujan.

Esoknya (hari H Prewedding) sesuai janji kami sudah mempersiapkan segalanya sejak pukul 6, namun sayang Tri & Dela belum datang juga menjemput kami (biasa…jam karet😀 ), akhirnya pukul 7.30 WIB mereka datang juga dan kita langsung berangkat ke lokasi pemotretan.

Ada tiga tempat yang akan kami kunjungi kali  ini, tempat yang unik dan jarang dipakai fotografer untuk prewedding, memang inilah keunikan kami “mencari spot yang tak terjamah fotografer” hehe….

Untuk biaya ke lokasi pemotretan di pastikan hampir 100% gratis, ya paling-paling bayar buat karcis parkir doang😀. Mencari tempat Prewedding yang GRATIS tidaklah gampang perlu cek dan ricek hingga yakin bahwa lokasi tersebut cocok untuk Prewedding.

Tema yang akan kita bawa kali ini pun bertema ABG namun masih menyentuh sisi formil, untuk itu-lah brefing sangat diperlukan demi lancarnya acara Prewedding kali ini.

Dari lokasi pertama ke lokasi berikutnya jaraknya tidak terlalu jauh, hanya beberapa kilo meter saja.

Cerita seru dimulai ketika pertama kali masuk ke area Prewedding (Tarif Rp. 2000,/kendaraan), rencana awal adalah memasuki area pohon rindang sebelum memasuki area lainnya, namun tiba-tiba hujan turun lumayan lebat akhirnya kami putuskan untuk menunggu hujan reda didalam mobil yang pengap, karena selain calon pengantin ada beberapa anggota keluarga yang ikut (sekalian liburan hehehe…). ditambah perut sudah mulai keroncongan karena waktu menunjukan sekitar jam 10.00 WIB.

Diputuskanlah mencari tempat berteduh (biasanya tempat para petani teh menimbang hasil tani-nya) sekalian menyantap makanan yang sengaja dibawa oleh keluarga, namun ada satu tempat berteduh-pun sudah penuh oleh orang-orang yang sama-sama gak mau badannya kebasahan karena ujan😀 .

Sang sopir (Papah Dela kami panggil Pak Adin) memutuskan mencari tempat teduh lain dan akhirnya bolak-balik hingga jika dihitung-hitung sudah 5 kali balikan dengan jarak lebih dari 3 KM sampai akhirnya hujan-pun reda dan heheehe……. akhirnya kita balik lagi ke tempat semula yang sekarang udah agak kosong karena mungkin yang berteduh sudah melanjutkan kembali perjalanannya.

Makanlah kita dengan lahap (karena kelewat laparnya hehe) setelah kita melanjutkan pekerjaan, yaitu menuju lokasi peninggalan belanda yang kebetulan jaraknya tidak jauh dari tempat berteduh.

Terlihat cuaca mulai berubah menuju cerah, ada secerca harapan dari kami untuk mendapatkan tembakan yang bagus…..

Namun kisah lucu belum berakhir….. Pak Adin yang dari tadi kelihatan sangat lahap makan sekarang ingin mengeluarkan makanannya (BAB)😀 ….. sayang nggak ada TOILET di kebun teh hihihihi……

Untung saja beliau masih memegang ajaran nenek moyang orang Sunda, “Jika Anda mau BAB, bawalah batu, niscaya rasa mules Anda akan hilang”😀 , akhirnya dengan berbekal batu yang beliau bungkus dengan kertas tishue, bener juga Pak Adin ini nggak jadi mules (mungkin karena sugesti kali ya?). dan kami melanjutkan pemotretan dengan tenang tanpa gangguan apapun.

Untuk memotret di area peninggalan Belanda ini memang agak sulit, karena banyak sekali pengunjung baik dari dalam kota hingga luar kota, bahkan tidak jarang orang bule pun berlalu-lalang di area ini.

Selesai dari area peninggalan Belanda, kami melaksanakan sesi pemotretan di area kebun teh tidak jauh dari sana, cuaca cukup mendukung, ada sinar matahari walaupun sudah agak sore namun tidak terlalu panas sehingga tampaknya tidak terlalu mengganggu pencahayaan.

OK! Pak Adin, kita lanjut ke area berikutnya :D….

Tempat rimbun dengan pohon-pohon rindang, itulah tujuan pemotretan kami selanjutnya. Jaraknya tidak jauh dari lokasi kedua hanya sekitar 300 M. Karena sudah terlalu sore, sang matahari-pun malu-malu menampakan cahanya, sehingga terpaksa kami harus menunggu beberapa moment yang tepat untuk melakukan pemotretan agar nantinya tidak terlalu under expose.

Sebenarnya ada satu lokasi Prewedding lainnya yang harus kami datangi, namun karena waktunya terlalu sore dan cuaca sudah mulai mendung lagi, akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja.

Akhirnya, sampailah juga dengan selamat walaupun hari Imlek (dimana Sobat-sobat yang merayakan mungkin mengharapkan turunnya hujan sebagai simbol rejeki), namun Prewedding kami kali ini terbilang sukses, hujan bukanlah halangan untuk fotografer seperti kami, apalagi hujan duit😀 .

Sobat punya pengalaman seru nggak dengan Preweddingnya, share dong disini?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Terima kasih atas kunjungannya, silahkan berkomentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s