Kemampuan Video Nikon D7000

Pada musim gugur tahun 2008, dunia fotografi profesional diperkenalkan pertama kalinya kepada dunia video profesional. Nikon merilis kamera DSLR pertama yang mampu melakukan shyuting video dengan kualitas tinggi, kamera tersebut bernama Nikon D90. Kamera ini memiliki potensi untuk merevolusi dunia fotografer. Namun Ada satu saingan yaitu sebuah kamera pra-produksi buatan perusahaan Canon dengan merk EOS 5D Mark II.

Seorang juara lomba foto jurnalistik bernama Vincent Laforet melakukan sesuatu yang tepat sehingga mempunya akses ke kamera pra-produksi tersebut. Vincent menghabiskan dana hingga $5.000 US untuk membuat sebuah film pendek dengan menggunakan kamera EOS 5D Mark II yang diberi judul “Reverie.” Akibat dari peristiwa tersebut, Canon-pun terbawa harum sehingga menjadikannya pemenang di dunia DSLR video, enam bulan sebelum kamera EOS 5D Mark II akan diluncurkan kepasaran. Hari ini 5D identik dengan video DSLR filmmaking. Seiring banyaknya peminat maka banyak sekali forum video film DSLR yang dinamai 5D seperti Planet5D.com , cinema5D.com , dan 5DFilmmaking.com.

Jadi apa yang salah? Kenapa bukan D90 yang menjadi pemenang di dunia DSLR video, berhubung karena kamera inilah yang merintis video DSLR lebih dulu. Dan kenapa D90 tidak memiliki dukungan dari orang terkenal sekelas Chase Jarvis?. Saya pikir jawaban yang mungkin bisa diterima ada dua. Pertama,  D90 menggunakan skema kompresi inferior video (Motion JPEG vs Apple H.264). Kedua, D90 mempunyai tingkat shoot pada 1280 x720p, bebeda dengan HD yang memiliki full-size 1920 x1080p.

Sejak rilis 5D Mark II, Canon telah mengeluarkan empat kamera DSLR video yang  menakjubkan, diantaranya 1D Mark IV, 7D, 550D/T2i dan yang terbaru 60D). Banyak orang bertanya-tanya apakah Nikon akan melakukan hal yang sama untuk mengejar ketinggalannya?. Akhirnya Nikon menjawab dengan merilis Nikon D7000 : Kamera prosumer tingkat menengah dengan shoot 1080p dan menggunakan H.264 codec. Tetapi apakah ini cukup untuk memberikan pukulan telak untuk Canon DSLR video?. Untuk membandingkannya, kita harus tahu kelebihan dan kekurangan Nikon D7000 ini.

KONTROL: Secara garis besar, semua kontrol kamera berada pada lokasi yang nyaman dan kemungkin an besar Sobat sudah akrab dengannya seperti kontrol tombol aperture di bagian depan, tombol menu di sebelah kiri atas bagian belakang, dll. Namun, dari perspektif filmmaking disini ada sedikit yang mengecewakan yaitu Sobat memerlukan dua tangan untuk perubahan pada ISO. Bayangkan saja Sobat harus menahan tombol ISO di sebelah kiri, kemudian tekan tombol On di sisi kanan belakang kamera. Meskipun mungkin akan menjengkelkan, saya yakin Sobat dapat menerimanya.

Namun, melihat latar belakang bahwa salah satu yang membuat para fotografer malas untuk mencoba membuat film dengan DSLR adalah kita tidak dapat mengubah aperture dalam mode Live View (kecuali jika Sobat menggunakan lensa manual aperture ring mungkin itu cara satu-satunya yang dapat dilakukan, karena Sobat tidak dapat mengubah aperture saat merekam). Banyak sekali situasi saat shyuting sebuah acara dimana Sobat harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dan pastinya  setiap ruangan memiliki kepekaan cahaya yang berbeda-beda. Dengan Canon DSLR, kita dapat dengan cepat menyesuaikan aperture dan tetap merekam aksi. Skenario terburuknya adalah  kemungkinan ada beberapa detik video yang over atau under ketika Sobat sedang melakukan penyesuaian. Namun tentu saja audio tetap merekam, dan aksi masih harus terus berlangsung.

Dengan menggunakan D7000 Sobat harus berhenti dahulu merekam, merubah aperture , dengan harapan mendapat pengaturan yang tepat untuk cahaya yang baru, dan kemudian Sobat mulai merekam lagi. Jika penyesuaian itu dirasa belum cukup, Sobat harus berhenti kembali dan melakukan hal yang sama sampai semuanya dirasa cukup. Dengan begitu, akan banyak sekali moment yang terlewat ketika Sobat melakukan penyesuaian. Mungkin saja, Sobat dapat mengubah kecepatan rana (shutter speed) dan ISO ketika sedang merekam, tetapi hal itu dapat merubah kualitas rekaman secara dramatis (seperti terlihatnya gerakan blur atau noise pada ISO tinggi).

Atas: Setiap shyut frame layar video diambil dari D7000 menggunakan lensa 85mm di f/1.4, 1/50 detik shutter speed, 24 frame per detik.

Sekarang, jika sebagian besar karya video Sobat dengan menggunakan kamera ini berada pada lingkungan pencahayaan yang dapat dikendalikan (film pendek, karya komersial, dll), mungkin saja hal-hal diatas tidak akan menjadi masalah besar. Dan juga, jika Sobat sudah terbiasa menggunakan kamera Nikon, tentu saja hal diatas tidak akan merubah Sobat untuk berpindah ke Canon bukan?.

KUALITAS VIDEO: Kualitas video kamera D7000 ini sangat indah. Namun seindah-indahanya hasil rekaman, selalu saja ada masalah serius  pada kualitas beberapa film yang harus diperhatikan.

D7000 memiliki setting high quality video recording (sekitar 22 Mbits / detik) dan setting kualitas  “normal” (sekitar 12 Mbits / detik). Namun tetap saja masih dibawah DSLR Canon, yang memiliki tingkat rata-rata dari 35 sampai dengan 48 Mbits / detik. Apakah Sobat tahu  bahwa semakin tinggi angka Mbits, semakin baik kualitasnya?.

Walaupun dalam prakteknya, jika sebagian besar hasil karya Sobat akan berakhir di website, hal ini tentu tidak akan banyak membuat perbedaan. Dan terus terang saja, bahkan untuk pekerjaan yang akan Sobat rilis pada DVD biasa, tidak akan ada perbedaan jika dilihat oleh orang awam. (Ingat! bahwa kualitas HDV camcorder adalah hal yang paling pokok untuk videografer  acara, yaitu sekitar 25 Mbits / detik.) Namun, setting kamera ini tidak cocok untuk jenis pekerjaan broadcast, dan jelas tidak ideal untuk ditampilkan pada layar lebar.

Satu keuntungan dari nilai kompresi rendah ini adalah bahwa setiap klip dapat terekam pada D7000 selama 20 menit, sedangkan di DSLR Canon, klip individu hanya terekam sekitar 12 menit. (Karena struktur formatnya menggunakan media card, ukuran file individual tidak dapat melebihi 4GB). Ini dapat memberikan Sobat 75% lebih banyak waktu perekaman, dan tentu saja sangat bermanfaat saat syuting acara.

FRAME RATES: Seperti disebutkan sebelumnya, D7000 di atas lebih baik dari D90 berkaitan dengan kemampuan videonya  yang berukuran full-size 1920 x 1080 HD. Namun kelemahannya adalah bahwa ukuran ini hanya tersedia pada 24 frame per second/detik (fps). Jika Sobat menggunakan HD hingga 30 atau 25fps, HD yang akan Sobat dapatkan hanya 1280 x720. Catatan penting lainnya adalah bahwa kamera photographer tidak memiliki frame rate yang lebih tinggi dari 50 atau 60 fps. Manfaat dari rates yang lebih tinggi adalah memungkinkan Sobat untuk membuat gerakan lambat yang lebih nyata dengan over-cranking, ini artinya adalah Sobat menembak pada frame rate lebih cepat daripada hasil akhir editan. Misalkan, Jika video hasil editan akhir Sobat berada pada 30 fps, maka rekaman setiap shyut adalah 60 fps, ketika dikonversi akan menjadi 30 fps, dan hasilnya slow-motion speed hanya 50%-nya. Sobat dapat membuat artifisial slow motion di hampir semua sistem non-linier editing dengan hanya mengurangi kecepatan sesuai persentase, tetapi itu dapat menyebabkan rekaman Sobat akan terlihat sedikit berkabut, atau menyebabkan gambar menjadi blur karena komputer adalah interpolasi frame tambahan yang dibutuhkan untuk membuat slow motion. Ketika Sobat over-crank, rekaman Sobat membutuhkan  frame tambahan yang sebenarnya dibutuhkan, sehingga menghasilkan video klilp slow motion yang lebih halus dan lebih natural

Matahari terbit (sunrise) di New Orleans. Video shyut dengan 35mm, f8, ISO 100 pada 1 / 50 detik, 24 fps.

KEMAMPUAN PADA CAHAYA RENDAH: D7000 memiliki citra video yang luar biasa hingga ISO 3200. Ketika dishyut-kan pada tempat yang gelap sekalipun tidak terlalu terlihat banyak noise pada ISO 800, Bahkan dengan ISO 3200 kita masih mendapatkan gambar yang lumayan bagus. Jadi sobat tidak perlu melakukan shyut sampai  ISO 6400. Saya rasa ini bagus buat Sobat yang tidak memiliki lampu pencahayaan tambahan. (lihat gambar diatas)

KELEMAHAN BIASA: Seperti biasa, rekaman video yang dibuat oleh semua kamera DSLR pastinya memiliki beberapa kelemahan visual lainnya. Rolling shutter (men-shyut sambil memutarkan kamera) masih menyebabkan “jello” efek (yaitu ketika Sobat melakukan quick pans (memutar dengan cepat) dengan kamera,  rekaman akan terlihat goyah). Namun melihat dari perbandingan, hal ini masih lebih baik dibandingkan dengan D90. Rolling shutter juga akan menimbulkan efek aneh ketika flash tidak aktif. Hanya beberapa bagian dari objek yang akan tampak diterangi lampu flash. Tentu saja, hal ini dapat menyusahkan Sobat jika hal itu banyak terdapat dalam hasil rekaman Sobat. Moire juga tetap menjadi masalah dalam hasil rekaman (Efek moire adalah pola garis-garis halus yang terlihat aneh biasanya muncul dengan cepat pada rekaman video digital). Jika Sobat berencana untuk menggunakan DSLR video untuk merekam wawancara dengan orang-orang, pastikan Sobat memberitahu mereka untuk tidak mengenakan pakaian dengan pola halus (garis-garis tipis, houndstooth, baju dengan lubang-lubang yang sangat kecil, dll)

 

Daerah di dalam lingkaran merah menunjukkan efek pola moire. Ini di-shyut dengan 35mm di f/13, ISO 100 pada 1 / 50 detik, 24 fps.

Daerah di dalam lingkaran merah menunjukkan efek pola moire. Ini di-shyut dengan 35mm di f/13, ISO 100 pada 1 / 50 detik, 24 fps.

AKHIR KATA: Berkaitan dengan pembuatan film DSLR, tidak ada yang ditawarkan lebih oleh D7000 yang mungkin memiliki keunggulan di atas salah satu kamera DSLR milik Canon, atau bahkan lebih unggul dari GH2 Panasonic. Jika Sobat seorang pengguna Nikon dan ingin masuk ke pembuatan film DSLR dan Sobat berencana mencari penghasilan dari kamera Nikon yang telah Sobat miliki sekarang, penambahan 1080p pada 24 fps dan beralih ke H.264, akan membuat tambahan yang bagus untuk pekerjaan Sobat. Atau mungkin Sobat berencana meng-upgrade dari D90 ke D7000?.

Tonton video di bawah ini untuk mengatahui apa yang dapat dilakukan D7000.

Untuk kata yang digaris miring, Sobat bisa lihat artinya di artikel BEBERAPA ISTILAH DAN SINGKATAN DALAM FOTOGRAFI

Sumber : ppmg.com

 

5 pemikiran pada “Kemampuan Video Nikon D7000

  1. Ping balik: Pentax Q Kamera Terkecil dan Paling Ringan di dunia « Weddingku Magazine

  2. Ping balik: Era Kamera DSLR Terancam Tamat « Weddingku Magazine

  3. Halo mas Sovian. Makasih buat artikelnya. Saya baru aja make D7000. Kira2 best setting buat slowmotion video gmn ya?

    Salam kenal

Terima kasih atas kunjungannya, silahkan berkomentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s